IDEAJA.COM – Banyak orang mengira GERD dan maag adalah penyakit yang sama. Padahal, keduanya memiliki penyebab, gejala, dan penanganan yang berbeda. Salah memahami bisa membuat pengobatan tidak efektif, bahkan memperparah kondisi tubuh.
GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease adalah gangguan ketika asam lambung naik ke kerongkongan karena katup lambung melemah. Sementara itu, maag adalah istilah umum untuk nyeri lambung akibat iritasi atau luka pada dinding lambung yang sering disebut gastritis. Meski sama-sama terkait dengan lambung, sumber masalahnya berbeda.
Tanda dan Gejala yang Berbeda
Penderita GERD biasanya merasakan sensasi terbakar di dada (heartburn), terutama setelah makan atau saat berbaring. Kadang disertai rasa asam di mulut dan batuk kering di malam hari.
Sementara maag umumnya menimbulkan nyeri di ulu hati, perut kembung, mual, dan cepat kenyang. Gejala bisa muncul saat terlambat makan atau setelah mengonsumsi makanan pedas dan asam.
Penanganan Tepat untuk GERD dan Maag
Untuk mengendalikan GERD, hindari makan besar sebelum tidur, tidur dengan posisi kepala lebih tinggi, dan batasi konsumsi kopi, soda, serta makanan berlemak. Jika perlu, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan obat penekan asam lambung.
Sedangkan untuk maag, kuncinya adalah makan teratur dalam porsi kecil, hindari stres berlebih, dan jauhi makanan yang mengiritasi lambung seperti sambal, gorengan, dan makanan asam. Obat antasida atau pelindung lambung bisa digunakan jika direkomendasikan oleh dokter.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksakan diri bila mengalami nyeri dada berkepanjangan, muntah darah, feses berwarna hitam, atau kesulitan menelan. Gejala tersebut bisa menandakan komplikasi serius yang perlu penanganan medis segera.
Mengenali perbedaan GERD dan maag sejak dini membantu kamu mengambil langkah tepat sebelum kondisi memburuk. Jaga pola makan sehat, hindari stres berlebih, dan lakukan pemeriksaan rutin agar sistem pencernaan tetap dalam kondisi optimal.
