IDEAJA.com - Jakarta, Kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kanker payudara sejak dini masih menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan kesehatan perempuan di Indonesia. Hingga 30 September 2026, capaian deteksi dini kanker payudara secara nasional baru mencapai 16,19 persen, jauh dari target Kementerian Kesehatan sebesar 60 persen.
Angka tersebut menunjukkan masih perlunya peningkatan edukasi dan akses pemeriksaan kesehatan bagi perempuan. Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di Indonesia. Berdasarkan data GLOBOCAN 2024 yang dikutip dalam pemberitaan Media Indonesia, Indonesia mencatat 93.236 kasus baru dan 38.012 kematian akibat kanker payudara.
Rendahnya capaian deteksi dini dipengaruhi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan fasilitas layanan kesehatan dan masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sebelum muncul keluhan. Akibatnya, sebagian kasus baru diketahui ketika penyakit sudah berkembang ke stadium lanjut.
Padahal, pemeriksaan lebih awal dapat membantu tenaga medis menemukan kelainan dan menentukan langkah penanganan yang sesuai. Kementerian Kesehatan juga mendorong masyarakat memanfaatkan layanan pemeriksaan yang tersedia di fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk puskesmas.
Melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), perempuan berusia 30–69 tahun dapat mengakses skrining kanker payudara sesuai ketentuan program. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang perlu ditindaklanjuti, pasien dapat diarahkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan di fasilitas pelayanan kesehatan rujukan.
Selain memanfaatkan layanan kesehatan, perempuan juga dapat meningkatkan kepedulian terhadap kondisi tubuh melalui pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI. Pemeriksaan ini membantu seseorang mengenali perubahan yang tidak biasa pada payudara, seperti benjolan, perubahan bentuk atau ukuran, perubahan kulit, maupun keluarnya cairan yang tidak normal dari puting.
Namun, SADARI bukan pengganti pemeriksaan oleh tenaga medis. Jika menemukan perubahan yang mencurigakan, masyarakat sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter atau mendatangi puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Pemeriksaan klinis oleh tenaga kesehatan atau SADANIS juga menjadi bagian penting dalam deteksi dini. Dokter dapat melakukan pemeriksaan dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan tambahan, seperti USG atau mamografi, berdasarkan usia, kondisi, dan faktor risiko pasien.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa tidak semua benjolan pada payudara merupakan kanker. Meski demikian, perubahan yang tidak biasa tetap perlu diperiksa agar penyebabnya dapat diketahui secara tepat. Menunda pemeriksaan karena rasa takut justru dapat membuat penanganan terlambat.
Peningkatan deteksi dini kanker payudara membutuhkan kerja sama antara pemerintah, fasilitas kesehatan, tenaga medis, keluarga, dan masyarakat. Edukasi yang mudah dipahami serta akses pemeriksaan yang lebih luas diharapkan dapat mendorong semakin banyak perempuan memeriksakan kesehatannya.
Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan secara tepat waktu merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan. Perempuan tidak perlu menunggu munculnya keluhan untuk mulai peduli terhadap kesehatan payudara.
